Tuesday, June 14, 2011

DONGENG

Waktu SD, saya senang sekali mendengarkan dongeng, baik yang diceritakan ibu/bapak guru di sekolah maupun yang dikisahkan oleh kedua orangtua saya. Selain itu, saya juga gemar membaca dongeng atau cerita-cerita legenda dari majalah anak-anak ataupun buku-buku fiksi anak. Ketika itu, ayah saya berlangganan sebuah majalah anak agar bisa saya baca selagi senggang di rumah. Alasannya, biar saya tidak keluyuran main di luar rumah hehehehe...

Ketika SMP, saat itu sandiwara radio sedang booming. Tentu Anda ingat judul-judul sandiwara radio berikut ini: Saur Sepuh, Tutur Tinular, Mahkota Mayangkara, Naga Sasra dan Sabuk Inten, Kaca Benggala, Karmapala, Babad Tanah Leluhur, Misteri Gunung Merapi, Misteri Nini Pelet, dan sebagainya.Ketika layar televisi belum familiar di tengah-tengah masyarakat, sandiwara radio menjadi hiburan yang mengasyikkan, apalagi kisah-kisahnya sangat lokal atau diadaptasi dengan budaya bangsa Indonesia.

Pernah ketika masih duduk di SMP, ayah saya mengajak menonton film “Saur Sepuh” di sebuah bioskop. Saat itu, film tersebut sedang heboh, sehingga kami kebagian tempat duduk paling depan, pas depan layar, sehingga kami harus memicingkan mata. Bahkan, ada penonton yang rela duduk di karpet lantai bioskop. Hingga sekarang pun, aku masih suka dongeng atau cerita-cerita fiksi. Jika mendengar suatu dongeng, rasanya seperti dibuai, dibawa ke awang-awang, ke negeri antah berantah, bahkan berimajinasi bagai seorang pahlawan, manusia super, dan sebagainya.

Karena suka dengan hal-hal yang berbau fiksi, kadang aku susah sekali membedakan mana yang realitas dan mana yang nonrealitas alias khayalan. Pernah aku berkhayal tentang sebuah rumah mewah bertingkat dua, yang aku pernah lihat di suatu perjalanan. Andaikan aku memliki rumah itu, tentu sangat sukacitanya hidup ini. Hm, mudah-mudahan aku tidak tersesat oleh imajinasi tinggi karena buaian-buaian yang menggoda akibat seringnya mendengarkan dongeng. Apalagi yang menjanjikan hal-hal bisa mengubah diriku menjadi seorang pemenang, manusia super alias superman, bahkan aku takkan pernah kalah dan jatuh.

Bukankah cukup mensyukuri hidup ini apa adanya, aku sudah memenangi hidupku? Bukankah dengan menghadapi hidupku apa adanya aku sudah menjalankan kodratku? Ah, melihat hidup orang lain ibarat kita melihat sebuah rumah mewah dari luar pagar rumah. Walaupun rumah itu kelihatan mewah, kita tidak tahu isi yang ada di dalamnya. Belum tentu di situ berisi barang-barang mahal dan berguna. Bisa jadi rumah itu hanya rumah kosong dan berdebu. Namun, apabila kita melihat rumah kita sendiri, bukankah kita bebas memasukinya? Merasa nyaman walaupun tidur di atas tikar, walaupun hanya petak tiga. Hm, indah bukan?


Sumber foto: http://morfis.files.wordpress.com/2011/03/al-magnus1.jpg?w=600&h=560

No comments:

Post a Comment